Ari Alamsyah Pejuang Hidup Melawan Covid-19

 Alamsyah Pejuang Hidup Melawan Covid-19

Feature

Oleh : Yanto

Ari Alamsyah namanya. Dia lahiran anak kecil inilah tida.k tahu bahwa mereka tak pernah menjadi seorang yang21 tahun lalu. Dia merupakan anak bungsu dari 4 saudaranya dari pasangan suami istri Baktiar Isa dan Rohani. 

Ayahnya merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS di lingkungan Pemerintah Kabupaten Asahan Sumatera Utara sebagai pegawai biasa. Ibunya berprofesi sebagai Guru Madrasyah swasta dan mengajar tak jauh dari tempat tinggalnya Jalan Masmansyur Kisaran Barat.

Usia Ari terpaut jauh dibanding dengan selisih ketiga saudaranya.
Karena anak bungsu, Ari sering mendapat perhatian khusus dari kedua orang tuanya dan ketiga saudara kandungnya. Namun, Ari juga tak semujur seperti ketiga saudaranya yang saat ini telah menikah dan bekerja, ada yang sebagai Guru, Perawat dan Pegawai Negeri mengikuti jejak ayahnya.

Ari sejak lahir mempunyai cacat tubuh di kakinya, sehingga menyusahkan dia ketika hendak berjalan dan bermain dengan teman-teman seusianya.

Tahun 2015 lalu, ayahnya yang menjadi tulang punggung keluarganya meninggal dunia akibat serangan jantung. Ari kala itu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas kelas 3 dan hampir tamat dari sekolahnya.

Tidak lama kemudian, tepatnya Tahun 2017 Ibunya juga meninggal dunia akibat kanker rahim yang bisa tertolong kendati telah berulang kali berobat ke dokter dan rumah sakit.

Ari yang setahun baru tamat dari sekolah tak bisa melanjutkan sekolah di Perguruan Tinggi akibat ketiadaan biaya. Dia menempati satu-satunya rumah peninggalan kedua orang tuanya. Sementara ketiga saudara kandungnya tinggal di tempat berbeda karena sudah menikah dan sesekali berkunjung ke rumah tempat Ari tinggal sendirian.

Ketidakmujuran Ari mulai kentara, setelah Ari yang baru berusia 19 Tahun hidup sendiri dan sebagai yatim piatu. Tapi Ari rupanya tak pernah menyerah. Dengan ketiadaanya, dia menaruh hati terhadap janda beranak 2 yang kesehariannya memperhatikan Ari, baik makan dan kebutuhan sehari-hari.

Akhirnya pada pertengahan Tahun 2018, Ari menikah dengan perempuan janda beranak 2 itu dan pergi bersama keluarganya merantau di bilangan daerah wisata Parapat Simalungun.

Di daerah wisata itu, mereka hidup rukun kendati menyewa rumah untuk tinggal, mereka sambil berusaha jualan makanan dan buah tangan bagi pengunjung atau wisatawan asing dan lokal. 

Usaha mereka tergolong maju, terbukti sisa hasil usahanya bisa membeli rumah, kendaraan roda dua dan perabotan rumah tangganya dan membuahkan satu anak dari istrinya.

Bak pepatah, "untung tak dapat diraih, rugi pula yang datang". Usaha mereka hanya bertahan satu tahun lebih. Usahanya kian merosot tatkala, Pemerintah menutup dan melarang kunjungan wisatawan ke daerah wisata akibat pandemi Covid-19.

Walau sepi pengunjung yang berakibat dagangannya tidak laku, Ari dan keluarga tetap bertahan sambil berharap Corona hambus dari wilayahnya dan bisa berusaha kembali seperti semula.

Untuk bertahan hidup, Ari memutuskan untuk kembali menjual rumah yang dibelinya dan menyewa rumah untuk tempat tinggal bersama keluarga.

Keadaan semakin tak menentu, yang ditunggu juga tak kunjung datang, tepatnya Bulan Agustus 2020, Ari bersama keluarganya kembali pulang ke kampung halamannya di Kisaran.

Untuk menghidupi ketiga anaknya, dengan modal seadanya, istrinya mulai berusaha berjualan mie sop dan gorengan, sementara Ari bekerja sebagai pencuci kendaraan roda dua milik teman lamanya. 

Rezeki memang milik Allah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Usaha istrinya semakin hari semakin digemari pelanggan dan maju pesat. Ari tetap bersabar dan selalu bersyukur dan tak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai muslim. 

Saat ini, keluarga Ari sudah hidup nyaman bersama keluarganya dan tinggal di rumah peninggalan orang tuanya. 

"Kita memang harus 
bersabarmenghadapi cobaan dari Allah. Semua cobaan datangnya dari Allah dan akan kembali kepada Allah juga," tutup Ari tetap semangat.*****









Comments